25/10/2021

Sopir Angkot Kecewa, BBM Batal Turun

2 min read

BANGKO – Rencana Pemerintah Pusat untuk menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium seperti batal terwujud.

Rencana tersebut akan di realisasikan pada Sabtu 1 Oktober 2016, namun ntah apa alasannya, pada Sabtu malamnya Pemerintah Kembali mengumumkan bahwa harga premiun tetap berada di kisaran harga semula.

hal tersebut tentu kembali mendapatkan keluhan dari masyarakat golongan menengah, terutama para sopir angkot yang sangat mengharapkan Subsidi BBM jenis premium tersebut.

“Katanya ada Subsidi untuk kita (Supir Angkot,red) dan kendaraan roda dua, ternyata hanya isapan jempol belaka,” ungkap Darwis Sopir angkot yang hendak mengantri di SPBU Pematang Kandis Bangko.

Seperti di lansir dari laman TEMPO.CO, Penurunan itu dilakukan karena turunnya harga minyak mentah dunia dan penguatan nilai tukar rupiah terhadal dolar Amerika Serikat. Nilai penurunannya diperkirakan sebesar Rp 300-500 per liter.

“Opsi-opsi perhitungannya sudah ada. Tapi masih menunggu keputusan final,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja.

Pemerintah akan menetapkan perubahan harga BBM jenis Premium, solar subsidi, dan minyak tanah bersubsidi pada 1 Oktober 2016. Evaluasi atas komponen penentu harga BBM telah dilakukankan hingga 25 September 2016 lalu.

Dari hasil evaluasi itu Dirjen Migas IGN Wiratmaja Puja menyatakan adanya kemungkinan perubahan harga pada dua jenis bahan bakar, yakni Premium dan solar.

“Rata-rata dari harga perolehan 3 bulan terakhir, Premium mengalami penurunan dan solar mengalami kenaikan,” kata Wiratmaja saat dihubungi, Senin, 26 September 2016. Meski, menurut dia, perubahan harga itu tak akan melebihi Rp 500 per liter.

Kalau Wiratmaja juga mengatakan kalau harga solar akan mengalami kenaikan, kata Wianda, dengan adanya kenaikan ini, berarti ada indeks harga gas and oil yang meningkat, sehingga ada kenaikan harga solar dari Rp 5.150 per liter.

Wianda menuturkan Premium sejak 1 Januari 2015 sudah tidak ada lagi subsidi dari pemerintah, namun untuk solar masih ada subsidi dari pemerintah. Subsidi itu sebesar Rp 500 per Juni 2016. “Dari Rp 1.000 turun ke Rp 500,” ucap dia.

Wianda menyebutkan saat ini, konsumsi Pertalite dan Pertamax telah mencapai kisaran 30 persen dari total konsumsi bensin secara nasional. Pada akhir tahun nanti diperkirakan konsumsi pertalite dan pertamax mencapai 40-50 persen. Sebaliknya, konsumsi Premium turun dari 90-80 persen menjadi 60-70 persen dalam enam bulan terakhir.(TM02/PINGIT ARIA/DIKO OKTORA/GRACE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *